Postingan

Delia

Olive dan Risma Frida Umi Faizah Tiara Lia Tiara Tiara

De Dack dan Mata chapter 1

Garnasi Kota Salam penduduk Bumi. Oh, namaku Dacko Dil Elamsittra. Panggil saja De Dack. Aku berasal dari Planet Dranck, planet ketiga di sistem Tata Sanky. Letaknya sekitar…. Tunggu. Kalian berada di Galaksi Bimasakti, ya. Haduh. (menepuk dahi) Baiklah. Mari kita menuju galaksiku, Galaksi Angryuniqee . Apalagi ini kisah tentangku, kan. Bukan kalian. oOo Ngomong-ngomong, Galaksi Angryuniqee terletak sangat, sangat, sangat jauh dari sini. Sekitar… yah. Jika kalian tarik garis lurus dari Bumi ke Galaksi Andromeda, maka galaksiku terletak 10 kali panjang garis tersebut. Bisa diperkirakanlah. Aku tinggal di sebuah kota terbang. Namanya Garnasi Kota. Kota tersebut berdiri di dalam tempurung seekor hewan yang menyerupai kura-kura di planet kalian. Kami menyebutnya Garnasi . Kota tersebut melayang-layang di luar angkasa seperti sebuah kapal LA tanpa roket pendorong. Kota ini cukup besar. Membentang hingga 50 km jauhnya. Ada banyak gedung pencakar langit menjulang hingga ha...

Dunia Erscritson (AZI)

AZI (MGMS/9.25.15570/2019) Pagi ini, pagi yang cukup absurd bagi Shy. Sebab, dia baru saja melewati kejadian-kejadian di luar nalar. Pertama, dia bangun terlalu pagi karena waktu terhenti sementara. Kedua, dia tidak sengaja bertemu dengan target yang dicari, di saat yang tidak tepat pula. Ketiga, dan ini yang paling parah, dia bertemu dengan AZI. Shy sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan AZI. oOo Sekarang, tepat 5 meter dari tempat Oreshy berpijak, berdiri tegak orang itu—AZI. AZI melangkah maju dengan santai menghapiri Shy. Dia menepuk pundak Shy seraya berkata “Tempat ini tidak cocok untuk latar pembicaraan . M ari kita pindah ke tempat lain.” Shy hanya diam dan tanpa sadar melotot. Mimik mukanya bingung, marah, dan sedikt takut — bercampur aduk. “Ke tempat favoritmu , ” AZI tersenyum sinis , berbisik di telinga Oreshy , “wahai tukang drama . ” Saat itu juga keluar cahaya biru dari tangan AZI. Cahaya itu semakin cerah dan akhirnya membuat Ore...

Jin Celengan eps 1

Celengan Ayam Di sebuah kota yang tidak terlalu terkenal, berdirilah sebuah sekolah yang tidak terlalu besar. Kala itu, pukul dua siang. Dua siswa laki-laki tengah berjalan keluar meninggalkan parkiran dengan berbincang-bincang mengenai kejadian di hari itu. Mereka sibuk berbicara dengan sesekali tertawa karena ceritanya “ lucu”. Hingga sampailah mereka di depan gerbang.  “Kamu pulang sendiri atau dijemput?” kata Irfan, seorang teman. “Sendiri aja, menikmati indahnya kota,” jawabku, “lagipula sepedaku mau diapain?” “Dijual di rombengan . Hahaha!” “Sudahlah, duluan.” “Ya. Ati-ati.” “Oke” Akhirnya aku pulang sendiri an dengan sepedahku. Pergi menuju sebuah tempat yang memang sudah kutunggu-tunggu sejak lama. Sudah satu bulan ini aku menyisihkan uang demi membeli sebuah novel karya seorang penulis lokal. Ini adalah novel ketujuh dari serialnya, “Pohon Penghancur Mobil”. Rilis tujuh minggu lalu. Sejak itulah aku mulai menabung. QIF Li...